Setiap orang yang pernah hidup di pulau Jawa pasti minum Es Teh. Satu minuman wajib yang dipesan kalau sedang cangkruk di Surabaya. Apalagi kalau sehari-hari gumbulnya sama Mahasiswa yang senengnya mangkal di warung kopi di dekat kampus. Okelah kalau mau bahas sesuatu mulai dari hal paling gak penting sampai hal yang menentukan masa depan pasti mereka ngajak ngopi, meskipun pesennya ya Es Teh. Lalu kenapa tulisan ini gak bahas Ngopi atau Nyangkruk aja? Kan enak tuh bisa bahas siapa yang sukanya diajak ngopi tapi gak diseriusin, eh. Ndak ah. Tulisan itu nanti saja. Buat bahan selanjutnya.
Jadi gini, Es teh itu bisa dibilang hal paling ajaib loh. Gak percaya? Di deket tempatmu sekarang ada warung kopi? Atau angkringan Lah minimal. Pesen es teh gih. Udah? Kalau udah tunggu bentar sampek dinginnya es batu menyebar ke seluruh gelas dari atas sampek bawah. Diaduk kalau perlu. Kalau udah cepet diminum ya. Keburu dinginnya ilang malah gak kerasa nanti enaknya. Kalau udah, dan ini beneran kamu lakuin, selamat. Kamu sudah berhasil mengikuti tutorial minum es teh yang gak penting. Hihihi.
Engga yang tadi bercanda. Yang seriusan yang ini. Jadi, saya bisa bilang es teh itu ajaib karena setiap kamu minum es teh apalagi itu pas siang lagi terik, kamu bakal ngerasa dahagamu ilang. Tapi tunggu, begitu itu es teh kamu habiskan sekali tegukan niscaya dahaga yang kamu rasakan bakal kerasa lebih menyiksa dua kali lipat. Gak percaya? Silahkan lakukan tutorial seperti diatas. Wkwkwk
Es Teh itu labil. Dia bakalan lebih manis ketika kamu pesan siang hari pas cuaca lagi panas-panasnya. Hanya sedikit warung kopi yang menyajikan es teh yang konsisten manisnya siang dan malam. Entah ini merupakan strategi pemasaran es teh atau bukan, tetapi itu nyata. Es Teh siang hari selalu lebih manis dibandingkan malam hari. Padahal orang yang bikin sama. Hebat? Ajaib? Gak Blas!!!
Ini sedikit penelusuran saya dalam hal per’esteh’an yang sudah saya mulai sejak kepikiran tema ini.
Menurut Wikipedia, Es teh atau Teh es adalah teh yang didinginkan dengan es batu. Es teh seringkali ditambahkan rasa seperti melati, dan buah-buahan seperti limun, ceri, dan arbei, atau susu. Es teh adalah minuman yang sering diminum saat siang hari karena suhu udara yang panas. Di warteg, es teh sering diminum selain air dingin. Teh tarik adalah contoh dari es teh. Selain itu, beberapa merek juga menyediakan es teh, seperti Teh Botol, Frestea, dan Nu Green Tea.
Gokil, sampai-sampai wikipedia juga bikin review tentang es teh. Pertanda keajaiban gak tuh.
Teh sendiri diyakini berasal dari daratan Cina. Disana ditemukan catatan dari pemerintahan Dinasti Han pada tahun 221 – 8 SM. Saat itu teh sudah mulai diolah dan diproses, meskipun secara sederhana, untuk dijadikan minuman. Kebanyakan lebih sebagai campuran minuman kesehatan sih, ditambah jahe dan ramuan lainnya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa jauh sebelum catatan tersebut ditulis, teh sendiri sudah digunakan sebagai obat dengan cara mengunyah daun teh untuk mendapatkan rasa yang menyenangkan dari sari daun teh. Mungkin ini yang menjadikan budaya minum teh melekat dan identik dengan kebudayaan Cina, meskipun banyak negara di berbagai penjuru dunia mengklaim bahwa budaya minum teh sebagai budaya mereka.
Pada awalnya Masyarakat Eropa hanya mendengar kisah bahwa di daratan timur ada satu minuman yang berasal dari daun dan mulai membicarakan fenomena tersebut. Sampai kemudian muncul Jesuit Father Jasper de Cruz yang menulis artikel tentang teh pada tahun 1560 setelah dia secara personal menjumpai tanaman tersebut. Perjalanan teh ke Eropa tidak lepas dari adanya hubungan perdagangan antara Portugis dengan saudagar Cina yang mengembangan jalur perdagangan dan mulai mengkapalkan teh ke pelabuhan Lisbon sehingga akhirnya teh menjadi semakin populer di Eropa, termasuk juga Belanda. Nah, sepertinya disini nih salah satu alasan mengapa negara-negara di Eropa mulai melakukan ekspansi ke dunia timur. Untuk mendapatkan rempah dan sumber daya alam yang tidak dimiliki negara mereka. Ya salah satunya Belanda yang sampai juga di Nusantara yang pada akhirnya menjadi Indonesia. Indonesia yang memiliki Kontur tanah yang cocok untuk menanam teh.
Mungkin kalian akan mengira Belanda masuk ke Nusantara untuk urusan teh? Salah besar. Awalnya malah ada seorang berkebangsaan Jerman bernama Andrean Cleyer yang membawa Camellia Sinesis (Tanaman penghasil teh) untuk ditanam sebagai tanaman hias. Iya, tanaman hias. Seorang Rahib bernama F. Valentijn mengaku pernah melihatnya di pekarangan rumah Gubernur Jenderal VOC, Camphuys, di Batavia. Percobaan penanaman Teh dalam skala luas baru dimulai pada tahun 1827 di Wanayasa, Purwakarta dan Lereng Gunung Raung, Banyuwangi. Percobaan ditempat tersebut tergolong berhasil, dan tahun 1828 mulai dibangun perkebunan skala besar di Jawa dan pada saat pemerintahan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Van den Bosch, teh menjadi bagian Cultuurstelsel. Teh kering dari Jawa tercatat didistribusikan ke Amsterdam pada 1835. Dan setahun setelahnya mulai dilakukan swastanisasi perkebunan teh.
Pada masa sekarang ini Indonesia menjadi negara terbesar ke 7 yang memproduksi teh di dunia. Industri teh pun mulai banyak menemukan pasarnya. Mulai dari teh kering, teh celup, teh kemasan, dan es teh. Itu semua tidak terlepas dari jasa Bangsa Portugis yang memiliki koneksi dengan Bangsa Cina sehingga Teh pada akhirnya bisa sampai ke Indonesia dan kita bisa menikmati segarnya es teh di siang hari. Terimakasih Bangsa Portugis.
Kalau kamu mengira tulisan ini bermanfaat, terimakasih. Karena saya tidak ingin memberi pengetahuan lebih kepadamu. Sekali lagi saya hanya ingin menuturkan apa yang ada dalam pikiran saya. Hahaha
Tidak ada komentar:
Posting Komentar