Hahaha. Tidak terpikir ternyata "mokel" dalam puasa menulis kali ini harus dimulai dengan pertanyaan yang tiba-tiba menyerempet begitu saja. Pertanyaan tentang apakah benar ini rindu, apakah benar ini kenangan yang secara otomatis terpanggil, apakah benar rindu ini sudah hadir sejak dulu melekat dengan kenangan ketila ia terbentuk?
Jika kita memiliki kemampuan mengelola otak dan isinya pasti aka sangat keren. Bayangkan saja kita bisa punya akses penuh untuk memilih dan memilah mana saja input yang kita terima melalui panca indera untuk kemudian dimasukkan kedalam direktori penyimpanan dalam otak. Kepingan A bisa masuk dalam direktori ingatan, kepingan B yang tidak terlalu penting bisa masuk ingatan temporer, kepingan C bisa masuk dalam kenangan, dan seterusnya. Sayangnya manusia memiliki keterbatasan menggunakan potensi yang padahal 'katanya' prototipe paling sempurna ciptaan Tuhan.
Film Lucy(EuropaCorp: 2014) menjelaskan bahwa sebenarnya manusia hanya menggunakan 20% kapasitas otaknya. Padahal jika kita berhasil menambah sedikit saja kita sudah termasuk jenius. Bayangkan saja semisal 100% kapasitas otak bisa digunakan secara maksimum. Semua pekerjaan pasti akan mudah diselesaikan. Apalagi hanya sebatas memilah mana yang masuk ingatan mana yang masuk kenangan. Tidak akan ada lagi bucin yang tiba-tiba tidak bisa berkata² karena tiba² tepanggil kenangan dengan masalalunya tanpa sengaja.
Tetapi bayangkan saja jika kemampuan menggunakan 100% kapasitas seperti dalam film Lucy itu nyata adanya. Akan sangat menyenangkannya bermain-main dengan ingatan. Manusia akan sama canggihnya seperti superkomputer milik badan intelijen amerika yang katanya sudah bisa mengidentifikasi teroris bahkan sejak sebelum dia lahir. Manusia dapat dengan mudah menyetel kapan waktunya rindu dan tidak. Semua hal dapat mudah dilalui tanpa harus khawatir ada sesuatu yang tidak bisa dibereskan. Tapi yakinlah, itu semua tidak akan berjalan dengan mulus.
Jangan pernah melupakan apa yang sudah digariskan oleh Sang Maha Pembuat Cerita:
فان مع العصر يصرا، ان مع العصر يصرا
"Maka sesungguhnya setelah datangnya kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya setelah datangnya kesulitan itu ada kemudahan."
Tidak mungkin Dia menyebut hal tersebut sebanyak dua kali tanpa ada maksud tertentu. Jika semua hal berjalan dengan lancar tanpa ada masalah, lalu apa gunanya manusia diberi kemampuan kecuali digunakan untuk berpilir dan memecahkan sebuah masalah. Ayat tersebut diatas dapat menjadi sebuah jaminan bahwa seberat apapun masalah yang menimpa anak cucu Adam, kemudahan pasti akan menemuinya ketika mereka mau mencari solusinya. Intinya, diam dan terima apa saja yang terjadi. Ikhlas. Anggap semua sebagai tes kenaikan kelas dan bukan beban yang harus ditanggung. Seberat apapun rindu itu mendesak, letakkan. Itu hanya sebuah kilasan sebagaimana kenangan yang hanya datang menyerempet. Tidak lebih. Yang harus dilakukan adalah ikhlas, menerima kenyataan bahwa manusia tidak bisa memilih memiliki masalalu sekelam apa. Jadikan rindu itu sebagai pengingat, peringatan tentang adanya sebuah kisah, tidak lebih. Bangun, bangkit, berjalan. Ada hari esok yang menunggu untuk dijalani. Terimakasih sudah mengetuk. Rindu akan selalu memiliki tempat tersendiri di dalam salah satu bilik-bilik hati. Dan yang terjadi malam ini hanyalah satu kejadian dimana Sang Rindu sedang merasa sepi dan ingin berkata bahwa Ia sedang mencari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar