Berbicara mengenai benar-salah bukan berarti mutlak yang kamu lakukan itu benar dan yang dilakukan orang lain itu salah. Akan tetapi ada banyak sudut, sisi, jarak, resolusi, dan cara pandang mengenai benar-salah itu sendiri.
Saya teringat satu poin penting dalam mata kuliah Filsafat Ilmu yang pernah saya ambil semester pertama dulu. Di dunia ini tidak ada yang namanya kebenaran hakiki. Yang ada hanyalah pembenaran-pembenaran. Saya berkesimpulan semua yang dilakukan oleh manusia hanyalah pembenaran atas apa yang mereka yakini. Jadi letak benar-salah perbuatan mereka hanya sebatas keyakinan mereka atas perbuatan tersebut. Memang sulit mendefinisikan benar-salah secara gamblang. Masalahnya benar-salah itu relatif. Tergantung dari sudut dan sisi mana, jarak dan resolusi seberapa, serta cara bagaimana yang digunakan untuk memandang perkara benar-salah tersebut.
Mahaguru saya pernah bilang perkara benar-salah itu kompleks. Ada benarnya diri sendiri, ada benarnya orang lain, ada benarnya orang banyak. Ketiga hal itu tidak jarang saling berseberangan kuadran, bahkan saling hujat satu sama lain. Contohnya fenomena begal yang mati ditangan calon korban begalnya baru² ini. Menurut si calon korban begal dia benar lha wong dia membela diri. Toh senjata yabg dia gunakan itu ya punya si begal sendiri, senjata makan tuan. Beda lagi menurut kacamata hukum, dia si calon korban begal ya tetep salah wong melakukan penganiayaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang. Agak berat itu hukumannya meskipun dari sisi yg lain perbuatan dia bisa dibenarkan wong dia melawan kejahatan biar setan tidak bisa bekerja. TAKBIR!!!
Banyak lagi contoh yang lainnya tapi bukan saatnya saya masukkan tulisan ini. Yang pengen saya soroti adalah bagaimana caranya kita bisa melakukan pembenaran atas sesuatu yang kita perbuat? Padahal menurut keyakinan orang lain itu salah. Bikin dilema memang. Disatu sisi kita yakin perbuatan kita benar dan disisi lain masyarakat malah ngasi stempel kita bejad. Ya yang paling simpelnya sih Do what you wanna do. Selama itu baik menurutmu yasudah sikat. Kenapa ngurusin orang lain. Tapi kalau kita ambil opsi ini kita sudah harus punya sikap dasar yaitu "peka" agar di kemudian hari kita ndak dicap "PEKOK". Kita harus tau kapan waktunya ucapan orang lain itu kita dengarkan. Jangan sampai kita terus melangkah padahal sudah diteriakin sama orang lain kalo di depan itu ada galian, ya keblowok nanti.
Opsi kedua selalu menimbang ucapan orang lain atas perbuatan yang menurut kita benar. Jadi kita harus mau mendengarkan nasihat orang lain atas apa yang kita lakukan. Entah nasihatnya baik atau malah membikin kita mikir. Tapi konsekuensinya kita bakalan lama memutuskan satu perkara. Tapi repotnya gini, rek. Terkadang orang² itu ya bangsat juga. Bilangnya setiap keputusan harus didiskusikan terlebih dahulu, jadi nanti hasilnya itu berdasarkan musyawarah mufakat. Lah mau diskusi/rapat repotnya minta ampun. Banyak hal gak penting yang dijadikan prioritas. Pas tiba waktunya meeting malah yang dibahas bukan masalah utama. Yg muncul malah Hal² gak guna yang bisa saja diobrolin diluar meeting. Eh tapi setelah hasil meeting dijalankan malah dibilang salah, kurang tepat sasaran, gak seharusnya gitu, kok gak koordinasi dulu. Kan Anying. Situ yang buat rencana sini yang disalahkan katanya gak fokus. hm. kok malah sedikit curhat. Maaf malam ini saya sedikit baper.
Ya memang itu sih repotnya hidup bersosial dengan banyak orang disekitar kita. Yang paling baik menurut saya saat ini adalah jalankan apa yang menurut keyakinanmu benar. Dan pertanggungjawabkan apa yang sudah kamu jalankan sesuai keyakinanmu tersebut. Saya sering bilang hidup itu tentang memilih. Dan selanjutnya kita harus berjuang serta bertanggungjawab atas pilihan hidup kita itu. Begitu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar